Menu Close

Berita & Acara

Cloud Bursting: Solusi Cegah Downtime Saat Lonjakan Traffic

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

Table of Contents

Ketersediaan layanan digital yang stabil menjadi faktor krusial bagi perusahaan modern. Baik platform e-commerce, aplikasi bisnis, maupun sistem layanan publik, semuanya dituntut untuk selalu online dan responsif. Namun, dalam praktiknya, lonjakan traffic yang tidak terduga masih sering menjadi penyebab utama gangguan layanan dan downtime pada sistem.

Cloud bursting hadir sebagai pendekatan strategis untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan memanfaatkan fleksibilitas cloud, cloud bursting memungkinkan sistem menyesuaikan kapasitas secara cepat ketika beban kerja melonjak. Melalui hal ini, perusahaan dapat menerapkan cloud bursting untuk mencegah downtime tanpa harus menyediakan atau menggunakan infrastruktur yang berlebih secara permanen.

Apa Itu Cloud Bursting dan Hubungannya dengan Downtime System

Cloud bursting merupakan pendekatan hybrid cloud di mana beban kerja utama dijalankan pada infrastruktur internal atau private cloud, lalu secara otomatis dialihkan ke public cloud ketika kapasitas yang tersedia tidak lagi mencukupi. Mekanisme ini memungkinkan sistem beradaptasi dengan lonjakan permintaan secara cepat tanpa mengorbankan stabilitas layanan.

Keterkaitan cloud bursting dengan downtime sangat kuat. Downtime umumnya terjadi saat sistem mencapai batas kapasitasnya dan tidak mampu menangani peningkatan trafik atau permintaan secara tiba-tiba. Dengan cloud bursting, kelebihan beban dapat ditangani oleh kapasitas cloud tambahan secara real time, sehingga service tetap berjalan dan risiko gangguan dapat diminimalisir.

Dalam praktik operasional, cloud bursting untuk mencegah downtime digunakan menjadi solusi yang efektif bagi perusahaan dengan pola trafik yang fluktuatif. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas dan skalabilitas cloud, sekaligus mempertahankan kontrol serta keamanan data sesuai kebutuhan bisnis.

Mengapa Downtime Sering Terjadi Saat Lonjakan Traffic

Lonjakan traffic umumnya terjadi pada momen-momen tertentu, seperti kampanye besar, peluncuran produk, periode pelaporan, atau aktivitas pemasaran digital berskala luas. Infrastruktur yang dirancang untuk beban kerja normal sering kali tidak mampu mengantisipasi peningkatan permintaan yang terjadi secara tiba-tiba dan signifikan.

Pada sistem tradisional, kapasitas infrastruktur bersifat statis. Ketika jumlah permintaan melampaui kapasitas yang tersedia, server dapat mengalami overload, waktu response meningkat, hingga akhirnya layanan menjadi tidak dapat diakses. Kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas pengalaman pengguna, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian finansial serta merusak reputasi perusahaan.

Pendekatan cloud bursting untuk mencegah downtime hadir sebagai solusi atas keterbatasan tersebut. Dengan menyediakan kapasitas tambahan secara on-demand, perusahaan dapat mengantisipasi lonjakan traffic secara fleksibel tanpa harus melakukan investasi infrastruktur jangka panjang yang besar.

Bagaimana Cloud Bursting Bekerja untuk Menjaga Layanan Tetap Online

Secara teknis, cloud bursting bekerja dengan memantau beban kerja sistem secara real time. Ketika utilisasi sumber daya mendekati ambang batas tertentu, sistem secara otomatis mengalihkan sebagian workload ke lingkungan cloud tambahan.

Proses ini memungkinkan aplikasi tetap merespons permintaan pengguna tanpa gangguan. Setelah lonjakan traffic mereda, workload yang dialihkan dapat ditarik kembali ke lingkungan utama. Dengan mekanisme ini, perusahaan hanya menggunakan sumber daya cloud tambahan saat dibutuhkan.

Peran Cloud Bursting Sebagai Bagian dari Disaster Recovery (DR)

Di luar fungsinya dalam menangani lonjakan traffic, cloud bursting juga memegang peran strategis dalam penerapan disaster recovery. Ketika terjadi gangguan pada sistem utama, baik akibat kegagalan infrastruktur, kesalahan operasional, maupun insiden tak terduga lainnya, cloud dapat berperan sebagai lingkup cadangan untuk memastikan aplikasi dan layanan kritis lainnya tetap berjalan seperti normal.

Melalui integrasi yang telah disiapkan sebelumnya, cloud bursting memungkinkan proses pemulihan dilakukan secara lebih cepat dan efisien. Aplikasi dan data yang dibutuhkan dapat diaktifkan di lingkungan cloud tanpa melalui proses provisioning yang kompleks atau memakan waktu. Hal ini membantu meminimalkan waktu henti layanan dan menjaga operasional bisnis tetap berkelanjutan.

Cloud Bursting vs Scaling Tradisional

Scaling tradisional umumnya dilakukan dengan menambah kapasitas infrastruktur secara permanen, baik melalui penambahan server fisik maupun peningkatan spesifikasi pada sistem. Pendekatan ini sering kali tidak efisien, terutama jika lonjakan traffic hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu.

Sebaliknya, cloud bursting menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi. Kapasitas tambahan hanya digunakan saat diperlukan dan dapat dilepaskan ketika beban kerja kembali normal. Hal ini membuat cloud bursting lebih adaptif terhadap kebutuhan bisnis yang dinamis.

Contoh Penggunaan Cloud Bursting untuk E-Commerce & Aplikasi Bisnis

Pada platform e-commerce, lonjakan traffic umumnya terjadi saat kampanye promosi besar, flash sale, atau periode belanja musiman. Kondisi ini meningkatkan jumlah pengunjung, transaksi, dan aktivitas sistem secara signifikan dalam waktu singkat. Dengan menerapkan cloud bursting, beban kerja tambahan dapat dialihkan ke cloud secara langsung, sehingga performa aplikasi tetap stabil dan pengalaman pelanggan tidak terganggu.

Penerapan serupa juga relevan untuk berbagai aplikasi bisnis. Pada periode tertentu, seperti penutupan laporan keuangan, pemrosesan payroll, atau analisis data dengan skala yang besar, kebutuhan komputasi dapat meningkat drastis. Cloud bursting memungkinkan sistem menangani beban tambahan tersebut tanpa membebani infrastruktur utama, sehingga operasional harian tetap berjalan normal.

Melalui kedua skenario ini, cloud bursting membantu untuk mencegah downtime, membantu perusahaan menjaga ketersediaan layanan, serta memperkuat kepercayaan pengguna terhadap layanan digital yang disediakan dengan menyediakan layanan yang stabil apapun situasinya.

Menghadapi lonjakan traffic tanpa kesiapan infrastruktur yang memadai dapat menimbulkan risiko serius bagi keberlangsungan layanan digital. Cloud bursting untuk mencegah downtime menjadi pendekatan strategis yang memungkinkan sistem tetap responsif dengan memanfaatkan kapasitas cloud tambahan secara fleksibel dan efisien.

Agar strategi ini berjalan optimal, perlindungan data dan kesiapan pemulihan sistem menjadi faktor yang tidak terpisahkan. Cloudeka menghadirkan solusi cloud yang mendukung penerapan cloud bursting secara aman dan terkelola dengan baik, salah satunya melalui Deka Vault. Sebagai layanan backup dan disaster recovery, Deka Vault memastikan data kritis tersimpan dengan aman, terenkripsi, dan selalu siap dipulihkan ketika terjadi lonjakan beban maupun gangguan sistem. Dengan dukungan ini, proses pemindahan workload ke cloud dapat dilakukan tanpa risiko kehilangan data atau gangguan layanan berkepanjangan.

Ditambah lagi, seluruh layanan Cloudeka dirancang selaras dengan prinsip cloud sovereignty, sehingga data tetap dikelola dalam yurisdiksi Indonesia dan memenuhi persyaratan kepatuhan regulasi lokal. Pendekatan ini memberikan perusahaan kontrol penuh atas data, sekaligus kepercayaan dalam menerapkan strategi cloud bursting untuk mencegah downtime dan menjaga ketersediaan layanan.

Untuk mendapat informasi lebih lanjut, hubungi tim Cloudeka melalui cloudeka.id/contact-us   atau jelajahi solusi cloud dari Cloudeka melalui cmd.cloudeka.id.

Cloudeka adalah penyedia layanan Cloud yang berdiri sejak tahun 2011. Lahir dari perusahaan ICT ternama di tanah air, Lintasarta, menyediakan layanan Cloud baik untuk perusahaan besar maupun kecil-menengah.