Pertumbuhan data digital terus meningkat seiring dengan berkembangnya sistem informasi dan layanan penyimpanan data berbasis cloud. Data kini menjadi aset penting bagi perusahaan dalam mendukung operasional, pengambilan keputusan, serta pengembangan bisnis. Namun, volume data yang besar juga membawa tantangan baru, terutama dalam hal pengelolaan dan biaya penyimpanan.
Dalam lingkungan cloud, penyimpanan data yang tidak dikelola secara strategis dapat menyebabkan pemborosan biaya dan sumber daya. Tidak semua data membutuhkan tingkat performa dan akses yang sama, tetapi seringkali seluruh data disimpan dalam satu jenis storage. Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan perlu menerapkan pendekatan yang lebih terstruktur melalui storage tiering cloud, yaitu strategi pengelompokan data berdasarkan kebutuhan akses, performa, dan nilai bisnisnya.
Konsep Storage Tiering Cloud
Storage tiering cloud adalah strategi pengelolaan penyimpanan data dengan membagi data ke dalam beberapa lapisan atau tier penyimpanan. Setiap tier memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari sisi performa, kapasitas, maupun biaya. Data yang sering diakses dan bersifat kritis ditempatkan pada tier dengan performa tinggi, sementara data yang jarang digunakan dapat disimpan pada tier dengan biaya lebih rendah.
Pendekatan ini membantu perusahaan menyesuaikan jenis storage dengan kebutuhan aktual data. Dengan demikian, penyimpanan cloud tidak lagi bersifat seragam, melainkan disesuaikan secara cerdas untuk mendukung efisiensi dan keberlanjutan operasional.
Cara Kerja Tiering Cloud
Dalam praktiknya, storage tiering cloud bekerja dengan mengidentifikasi pola penggunaan data. Sistem menganalisis seberapa sering data diakses, kapan terakhir digunakan, tingkat kepentingannya terhadap operasional, serta kebutuhan performanya. Berdasarkan analisis tersebut, data ditempatkan pada tier penyimpanan yang paling sesuai.
Dalam pendekatan tradisional, proses tiering dijalankan berdasarkan aturan dan kebijakan yang ditentukan secara manual. Tim IT menetapkan kriteria perpindahan data, seperti periode tidak aktif, frekuensi akses, atau usia data. Ketika data memenuhi kriteria tertentu, data tersebut dipindahkan ke tier penyimpanan yang lebih sesuai, baik dari sisi biaya maupun performa.
Pada pendekatan yang lebih modern, storage tiering cloud dapat berjalan secara otomatis. Sistem secara berkelanjutan memantau pola akses dan penggunaan data, lalu memindahkannya antar tier sesuai kebijakan yang telah ditetapkan tanpa memerlukan intervensi manual. Ketika data menjadi jarang diakses, sistem secara otomatis memindahkannya ke tier yang lebih ekonomis. Sebaliknya, saat data kembali sering digunakan, data dapat dipindahkan ke tier dengan performa yang lebih tinggi.
Pendekatan otomatis ini membantu menjaga efisiensi biaya penyimpanan sekaligus memastikan ketersediaan dan performa data tetap optimal, terutama dalam lingkungan cloud yang dinamis dan terus berkembang.
Mengapa Storage Tiering Penting dalam Cloud Computing?
Storage tiering cloud menjadi elemen penting dalam pengelolaan infrastruktur cloud karena membantu perusahaan menghadapi pertumbuhan data yang terus meningkat secara lebih terkontrol. Tanpa strategi tiering yang tepat, seluruh data berisiko disimpan pada storage berperforma tinggi dengan biaya yang lebih mahal, meskipun sebagian besar data tersebut tidak memerlukan akses cepat atau kinerja tinggi.
Dengan menerapkan storage tiering cloud, perusahaan dapat menyesuaikan jenis penyimpanan berdasarkan karakteristik dan tingkat penggunaan data. Data yang bersifat kritis dan sering diakses dapat ditempatkan pada tier berperforma tinggi, sementara data arsip atau data yang jarang digunakan dapat dialihkan ke tier yang lebih ekonomis. Pendekatan ini memungkinkan efisiensi biaya yang optimal dengan mengoptimalkan model pengeluaran dari modal (CapEx) menjadi biaya operasional (OpEx) yang lebih fleksibel, tanpa mengorbankan ketersediaan dan keandalan sistem.
Selain efisiensi biaya, storage tiering juga meningkatkan fleksibilitas infrastruktur cloud. Perusahaan dapat menyesuaikan kapasitas dan jenis penyimpanan seiring perubahan kebutuhan bisnis, baik untuk mendukung ekspansi, analisis data, maupun optimalisasi operasional. Dengan memangkas biaya pada penyimpanan data pasif, perusahaan dapat mengalokasikan anggaran IT secara lebih strategis untuk kebutuhan inovasi, sehingga infrastruktur cloud menjadi lebih adaptif dan selaras dengan strategi bisnis jangka panjang.
Jenis-Jenis Tier dalam Storage Cloud Apa Saja yang Tersedia?
Dalam storage tiering cloud, data dikelompokkan ke dalam beberapa tingkatan sesuai kebutuhan performa dan biaya. Setiap tier memiliki karakteristik penggunaan dan media penyimpanan yang berbeda, mulai dari akses cepat dengan biaya tinggi hingga penyimpanan jangka panjang dengan biaya rendah.
| Tier | Karakteristik | Contoh Media / Use Case |
| Tier 0 / Ultra‑Fast | Performa sangat tinggi dan latensi rendah untuk data kritis yang sering diakses | SSD NVMe, RAM untuk real‑time system atau transaksi penting |
| Tier 1 / Hot | Akses cepat untuk data yang sering digunakan | SSD atau all‑flash storage untuk database operasi aktif |
| Tier 2 / Warm | Data yang masih diperlukan secara berkala namun tidak terus‑menerus | Kombinasi SSD dan HDD untuk laporan, data semi‑aktif |
| Tier 3 / Cold | Data jarang diakses dengan fokus pada biaya rendah | HDD berkapasitas besar, cloud archive, tape |
| Tier Archive / Deep Cold | Data arsip jangka panjang yang jarang diambil kembali | Layanan cloud archive seperti Glacier, objek cold storage |
Apa Peran Storage Tiering dalam Big Data dan Analytics di Cloud?
Dalam ekosistem big data dan analytics, storage tiering cloud memegang peran yang penting. Data analitik biasanya terdiri dari kombinasi data aktif, semi-aktif, dan historis dalam jumlah yang sangat besar. Tidak semua data perlu diakses secara real time, tetapi tetap harus tersedia saat dibutuhkan untuk analisis atau pengambilan keputusan.
Dengan strategi storage tiering, data aktif dapat ditempatkan pada tier berperforma tinggi sehingga analisis dapat berjalan cepat dan responsif. Sementara itu, data historis atau yang jarang diakses dapat dialihkan ke tier yang lebih ekonomis, sehingga biaya penyimpanan tetap terkendali. Pendekatan ini membantu perusahaan menjaga kinerja sistem analitik sekaligus memastikan efisiensi biaya dalam pengelolaan volume data besar.
Selain mendukung performa dan efisiensi, storage tiering juga memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk menyesuaikan kapasitas penyimpanan sesuai kebutuhan operasional. Hal ini menjadi kunci bagi organisasi yang ingin memaksimalkan nilai data tanpa membebani anggaran IT secara berlebihan.
Storage tiering cloud adalah strategi yang efektif untuk mengelola pertumbuhan data yang berkembang pesat di era digital. Dengan menempatkan data berdasarkan tingkat kepentingan dan kebutuhan aksesnya, perusahaan dapat mencapai keseimbangan antara performa, ketersediaan, dan biaya penyimpanan. Pendekatan ini tidak hanya mengoptimalkan infrastruktur IT, tetapi juga mendukung kelangsungan operasional jangka panjang.
Bagi perusahaan yang ingin menerapkan storage tiering cloud secara aman dan sesuai regulasi, pemilihan mitra teknologi yang tepat sangatlah krusial. Cloudeka hadir sebagai penyedia layanan cloud terpercaya di Indonesia yang mendukung implementasi storage tiering dengan prinsip cloud sovereignty yang memastikan bahwa seluruh data mematuhi aturan dan dikelola dalam yurisdiksi Indonesia, sehingga keamanan, kepatuhan, dan kontrol tetap terjamin.
Saatnya mengelola penyimpanan data cloud secara lebih cerdas dan terencana. Hubungi tim Cloudeka melalui info@lintasarta.co.id atau jelajahi solusi cloud Cloudeka di cmd.cloudeka.id untuk mendukung pertumbuhan dan efisiensi bisnis Anda secara berkelanjutan.